×

Penyebab Ateletaksis, Apa Saja

 

Ateletaksis adalah penyakit paru – paru yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sebagian atau salah satu lobus paru – paru. Kondisi ini menyebabkan paru – paru tidak dapat berfungsi dengan baik. Penyakit ini menyebabkan alveoli (kantung udara) menjadi kempis dan fungsi pernafasan menjadi terganggu.

Penyebab ateletaksis bisa beragam mulai dari tingkat keparahan dan kerusakan jaringan alveolusnya. Siapa saja bisa mengalami penyakit ini. Namun, bagi seseorang yang pernah mengalami penyakit pernafasan, jika ateletaksis juga dialami, hal ini membuat pernafasan menjadi semakin sulit. Selain itu, kadar oksigen juga bisa menurun di dalam darah.

Alveoli yang kolaps atau runtuh, yang membuat kecenderungan alami untuk ruang udara terbuka berkaitan dengan :

  • Pernapasan berkelanjutan (yang membuat alveoli terbuka)
  • Surfaktan (yang menjaga tegangan permukaan)
  • Napas dalam yang terputus-putus (yang melepaskan surfaktan ke dalam alveoli)
  • Batuk berkala (yang membersihkan saluran udara sekresi)
  • Konsekuensi utama atelektasis meliputi underventilasi (dengan hipoksia dan ketidakcocokan ventilasi / perfusi) dan pneumonia.
READ  Beberapa Cara Mengobati Kanker Payudara Secara Medis

Penyebab ateletaksis secara umum meliputi :

  • Kompresi ekstrinsik saluran udara (contohnya tumor, limfadenopati)
  • Obstruksi intrinsik saluran udara (contohnya benda asing, tumor, sumbatan mukosa)
  • Penekanan respirasi / batuk (contohnya anestesi umum, oversedasi, nyeri)
  • Posisi telentang, khususnya pada pasien obesitas dan pasien dengan kardiomegali
  • Kompresi atau kolaps parenkim paru-paru (contohnya efusi pleura besar atau pneumotoraks)
  • Operasi toraks dan perut merupakan penyebab ateletaksis yang sangat umum. Penyebabnya seperti anestesi umum, opioid (dengan kemungkinan depresi pernafasan sekunder), dan respirasi yang menyakitkan. Tabung endotrakeal yang malposisi bisa menimbulkan atelektasis dengan menutup bronkus induk.

 

  • Penyebab atelektasis yang kurang umum adalah disfungsi surfaktan dan parut parenkim paru atau tumor.

Gejala awal ateletaksis seringkali tidak tampak. Namun, hipoksemia dan pneumonia adalah yang paling sering terjadi. Gejala hipoksemia berkaitan dengan keparahan ateletaksis. Dispnea dan gagal nafas bisa juga terjadi jika ateletaksis yang terjadi cukup luas dan cepat. Namun, apabila ateletaksis yang berkembang kurang luas dan perlahan, mungkin gejala yang terjadi termasuk ringan bahkan tidak ada.

READ  Jangan Diabaikan, Perhatikan Gejala Ataksia Friedrich Berikut

Diagnosis ateletaksis bisa dilakukan dengan melakukan beberapa tes atau pemriksaan. Rontgen dada akan mendeteksi ateletaksis yang signifikan secara klinis (menyebabkan gejala, meningkatkan resiko komplikasi, memengaruhi fungsi paru – paru). Kondisi yang terjadi adalah kekeruhan paru – paru dan kehilangan volume paru – paru. Apabila penyebab ateletaksis tidak terlihat secara klinis (tidak ada pembedahan atau pneumonia terlihat ddi rontgen dada), dan kemungkinan adanya gangguan lain (emboli paru, tumor), pemeriksaan atau tes lain mungkin diperlukan contohnya seperti bronkoskopi (perhitungan dada), dan tomografi (CT).

Untuk mengobati ateletaksis, fisioterapi dada adalah tindakan yang bisa dilakukan. Hal ini bertujuan untuk membantu menjaga ventilasi dan pembersihan sekresi serta mendorong teknik ekspansi paru – paru misalnya batuk, latihan pernafasan dalam dan penggunaan spirometer insentif. Pengobatan lain yang bisa membantu yaitu seskresi yang berlebihan, dan tekanan jalan nafas positif bisa dipilih untuk pasien yang tidak diintubasi. Sedangkan bagi pasien yang ddiintubasi dan memiliki ventilasi mekanis, tekanan ekspirasi akhir positif/ventilasi volume tidal yang lebih tinggi bisa membantu.

READ  Ragam Jenis Vitamin untuk Tulang Sehat dan Kuat

Hal terpenting dari keseluruhannya adalah penyebab ateletaksis harus segera diobati seperti sumbat mukosa, benda asing, tumor, massa dan efusi paru). Alfa dornase nebulasi dan bronkoddilator bisa dilakukan untuk penyumbatan mukosa yang persisten. Apabila langkah yang sudah diambil belum efektif dan dimungkinkan terdapat sumbatan selain sumbat mukosa, maka bronkoskopi harus dipilih.

Upaya pendegahan untuk ateletaksis yang harus segera dilakukan adalah berhenti merokok. Bagi penderita paru – paru kronis (penyakit paru obstruktif kronis) harus dioptimalkan sebelum operasi. Selain itu, pelatihan otot inspirasi pra operasi (spirometri insentif) bsai dipertimbangkan bagi pasien yang akan melakukan pembedahan toraks atau pembedahan perut bagian atas. Untuk menurunkan resiko dan sebagai upaya pencegahan, teknik ambulasi dini dan ekspansi paru (batuk, latihan pernafasan dalam, spirometri insentif) bisa dilakukan.

 

Sumber :

www.msdmanuals.com

www.honestdocs.id

Sumber gambar :

Guws.medical.info